You don't have javascript enabled. Good luck with that.
Pencarian
Paripurna Pemberian Rapor BPK Atas APBD 2014 Ditunda
photo Yopie Oscar - Beritajakarta.id

Paripurna Pemberian Rapor BPK Atas APBD 2014 Ditunda

Paripurna istimewa DPRD DKI Jakarta tentang penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK-RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) DKI tahun 2014 yang sedianya digelar hari ini, akhirnya ditunda hingga pekan depan.

Enggak jadi hari ini. Mungkin minggu depan

Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD DKI Jakarta Ahmad Sotar Harahap mengatakan, paripurna LHP atas LKPD dilaksanakan setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan pandangan umum fraksi terhadap Raperda Kepariwisataan. "Enggak jadi hari ini. Mungkin minggu depan," kata Sotar, di Balaikota, Kamis (18/6).

Hal itu dikarenakan DPRD baru menerima surat dari BPK pada pukul 15.00 WIB, Rabu (17/6) kemarin. "Kami‎ baru terima suratnya kemarin pukul 15.00. Jadi tidak mungkin dilakukan paripurna tentang laporan BPK-RI hari ini," kata Sotar.

Basuki mengaku tidak mengetahui alasan penundaan pemberian rapor BPK atas pengelolaan APBD 2014 tersebut. Dia menduga laporan belum selesai dianalisis. "Mungkin rapatnya belum selesai," ujar Basuki.

Dia pun enggan memprediksi perihal opini yang akan diberikan BPK kepada Pemprov DKI Jakarta. Pada LHP terhadap pengelolaan APBD tahun 2013 lalu, DKI mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Opini ini menurun dibanding LHP tahun sebelumnya yang meraih Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). "Aku enggak suka main feeling-feeling. Biasanya saya menerawang bukan main feeling," kata mantan Bupati Belitung Timur ini.

Pada laporan pengelolaan APBD tahun 2013 lalu, BPK menemukan indikasi kerugian daerah mencapai Rp 85,36 miliar, temuan potensi kerugian daerah senilai Rp 1,33 triliun, kekurangan penerimaan daerah senilai Rp 95,01 miliar, dan temuan ekonomi, efisien, efektif (3E) senilai Rp 23,13 miliar.

Laporan Keuangan APBD 2013 terindikasi menunjukkan kerugian senilai Rp 59,23 miliar, antara lain tercermin pada belanja operasional pendidikan, kegiatan penataan jalan kampung, dan biaya pengendalian teknis kegiatan. Indikasi kerugian daerah itu muncul karena realisasi belanja tidak didukung dengan bukti pertanggungjawaban yang lengkap, seperti nota dan kuitansi yang dilengkapi identitas perusahaan.

Berita Terkait
Berita Terpopuler indeks
  1. TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

    access_time17-09-2026 remove_red_eye3315 personBudhi Firmansyah Surapati
  2. Pendataan Awal Pengadaan Tanah MRT Thamrin-Kwitang Dimulai

    access_time19-09-2026 remove_red_eye2193 personFakhrizal Fakhri
  3. Rencana Penataan Kawasan Jalan Tambora Disosialisasikan

    access_time21-09-2026 remove_red_eye911 personBudhi Firmansyah Surapati
  4. LRT Kelapa Gading-Manggarai Resmi Beroperasi, Tarif Rp8 Mulai Hari Ini

    access_time16-09-2026 remove_red_eye844 personDessy Suciati
  5. Pemprov DKI Ajak Warga Hemat Energi Lewat Aksi 60 Menit Hari Ini

    access_time19-09-2026 remove_red_eye830 personAldi Geri Lumban Tobing